Minggu, 03 Oktober 2021

3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 


 

Oleh

Rista Hariati, S.Pd

CGP Angkatan 2 Kabupaten Bengkalis

Pendamping Praktik Ibu Desrina, S.Pd. Aud

Fasilitator Bapak Drs, H. Firdaus M.Pd

 

           

            Guru memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat besar yang akan digugu dan ditiru oleh warga sekolah khususnya dan masyarakat pada umumnya. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang  guru, guru akan berhadapan dengan berbagai tantangan dan konflik yang mungkin muncul pada saat berinteraksi dengan peserta didik maupun warga sekolah lainnya. Untuk itu guru harus memiliki kemampuan yang harus dikuasai  dalam menyelesaikan berbagai macam masalah baik masalah dilema etika maupun masalah bujukan moral. Sehingga mampu menyelesaikan berbagai masalah dengan tepat.

 

1.         Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil

 

Peran seorang guru Sebagai pemimpin pembelajaran bertugas dan bertanggungjawab menciptakan suasana weel being ekosistem pendidikan di sekolah. Guru di tuntut untuk mampu menciptakan rasa aman, nyaman, sehat dan bahagia bagi peserta didik. Hal ini sesuai dengan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya. Dalam menciptakan weel being guru sebagai penuntun bertumbuhnya peserta didik,  tidak mustahil akan menghadapi suatu konflik dengan peserta didik, untuk itu guru harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana serta bertanggungjawab.  Dengan memahami materi modul 3.1 pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran guru akan mampu mengatasi semua permasalahan yang bakal muncul dalam berinteraksi dengan peserta didik Setiap langkah yang dilakukan  oleh guru dalam menyelesaikan berbagai masalah akan menjadi penentu dalam menciptakan suasana yang nyaman bagi peserta didik selain itu juga akan menjadi panutan yang akan digugu dan ditiru oleh peserta didik maupun warga sekolah lainnya bahkan masyarakat secara umumnya. Selaras dengan filosofi patrap triloka Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Dan Tut Wuri Handayani”.  Dalam filosofi tersebut Ki Hajar Dewantara mengharapkan bahwa sebagai seorang guru hendaklah dia mampu  memberikan contoh positif bagi muridnya, mampu  memberikan semangat bagi murid untuk berkembang dan menggali potensi dirinya serta akan selalu mendorong murid untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter sesuai bakat, minat dan potensi yang dimilikinya.

 

2.       Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan 

 

Kehadiran nilai dan peran guru penggerak berfungsi sebagai standar bagi guru dalam mengatasi suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, sekaligus sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Memahami modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan mempertimbangkan 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu Prinsip berbasis hasil akhir (ends based thinking),  Prinsip berbasis peraturan (rule based thinking) atau Prinsip berbasis rasa peduli (care based thinking)   diharapkan mampu  membentuk peserta didik yang mandiri, sehat fisik dan mentalnya, tidak mudah stress, serta memiliki prilaku sosial yang baik dan bertanggung jawab. Mandiri, kreatif, inovatif, kolaboratif, reflektif dan berpihak pada murid adalah nilai pokok yang harus dimiliki oleh seorang guru agar mampu berperan sebagai pemimpin pembelajaran dalam menciptakan suasana well being dalam ekosistim pendidikan. Pengambilan keputusan sesuai dengan nilai-nilai yang tertanam kuat serta sejalan dengan peran kita sebagai guru pada dasarnya juga merupakan bentuk implementasi dari proses pengelolaan social emosional yang matang dalam diri guru.  Kesadaran diri (self awareness), kemampuan pengelolaan diri (self management), adanya kesadaran social (social awareness) serta ketrampilan berhubungan social (relationship skill) menjadi langkah tepat dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness) untuk meminimalisir kesalahan serta memperkecil konsekuensi yang akan muncul.

 

3.         Pengarunh kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran  dalam pengujian pengambilan keputusan

 

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran oleh seorang guru akan lebih efektif dengan menerapkan praktek coaching,  karena dengan  pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diajukan oleh  coach dalam proses coaching akan mampu menstimulus kerja otak siswa secara maksimal sehingga secara metakognisi, siswa dapat melakukan proses pengambilan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab sesuai eksplorasi potensi diri yang dimilikinya. Dengan demikian akan membantu guru dalam menuntun peserta didik mendapatkan kemerdekaan sehingga mampu mengeksplorasikan petensi peserta didik dan melahirkan keputusan yang tepat dan bijaksana.  

 

.

4.     Pembahasan Studi Kasus Yang Fokus Pada Masalah Moral Atau Etika Terhadap Nilai-Nilai Yang Dianut Seorang Pendidik

 

Seorang pendidik harus mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, serta dapat  membedakan apakah permasalahan yang dihadapi tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral, Pengambilan keputusan haruslah mengutamakan kepentingan peserta didik sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang  tepat dari setiap permasalahan yang terjadi.

Dilema Etika adalah situasi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan tersebut secara moral benar akan tetapi saling bertentangan. Sedangkan Bujukan moral adalah suatu situasi seseorang harus memilih atara benar dan salah yang cenderung lebih mudah untuk memutuskan mana yang akan di pilih.

Nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik secara tidak langsung akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan,  ketika dihadapkan dengan masalah moral ataupun dilemma etika, nilai-nilai positif yang dimiliki oleh seorang guru akan menghasilkan keputusan yang tepat, dan bijaksana serta dapat dipertanggung jawabkan begitu juga sebaliknya. Proses pengambilan keputusan tidak hanya didasarkan oleh nilai-nilai positif yang ada pada diri seorang guru akan tetapi haruslah mempertimbangkan 3 prinsip pengambilan keputusan melalui 4 sudut pandang  paradigma yang selanjutnya di uji melalui 9 tahap pengujian permasalahan sebelum menetapkan keputusan.

 

5.   Dampak Keputusan Yang Tepat Terhadap Terciptanya Lingkungan Positif, Kondusif, Aman Dan Nyaman

 

Lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman adalah lingkungan belajar ideal yang diharapkan setiap peserta didik dalam menimba ilmu. Untuk menciptakan suasana weel being perlu adanya kerjasama semua warga sekolah. Disamping itu pengambilan keputusan yang tepat oleh seorang pendidik juga sangat dibutuhkan dalam setiap masalah yang terjadi agar lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bisa diciptakan. Pengambilan keputusanyang tepat adalah melalui sembilan tahap pengujian permasalahan sebelum keputusan ditetapkan,  agar guru memiliki keyakinan bahwa keputusan yang  diambil mampu mengakomodir seluruh kepentingan dan harapan berbagai pihak yang dilibatkan dalam kasus atau permasalahan yang dihadapi. Dampak positif yang diterima oleh siswa akan lebih besar dengan rasa percaya diri siswa tetap terjaga dan terbentuk.  Dengan tetap terjaga dan terbentuknya rasa percaya diri peserta didik akan dapat mengembangkan potensi diri mereka secara maksimal sesuai dengan kodratnya.  Apabila hal tersebut terwujud, maka lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan nyaman tercapai karena adanya keberpihakan terhadap kebutuhan pembelajaran peserta didik yang berdiferensiasi.

 

 

6.    Kesulitan Yang Dihadapi Dalam Pelaksanaan Pengambilan Keputusan Terhadap Kasus Dilema Etika Serta Masalah Perubahan Paradigma Di Lingkungan Sekolah

 

Setuju ataupun tidak setuju terhadap suatu keputusan adalah hal yang tidak bisa dielakkan dalam pengambilan suatu keputusan, karena adanya perbedaan sudut pandang terhadap suatu kasus terlebih kasus dilemma etika serta adanya perbedaan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap orang dalam mengatasi masalah  tersebut walaupun sudah melalui  proses  9 langkah pengujian sebelum menetapkan suatu keputusan, inilah kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan pengambilan keputusan terhadap suatu kasus dilemma etika. Kesulitan ini akan merubah paradigm di lingkungan sekolah.

 

7.   Pengaruh Pengambilan Keputusan Terhadap Pengajaran Yang Memerdekakan Murid Yang Berpengaruh Terhadap Kehidupan Masa Depannya.

 

Hakikat dari pendidikan yang memanusiakan manusia menurut pemikiran  Ki Hajar Dewantara akan tercapai dengan memberikan kemerdekaan belajar pada peserta didik. kebutuhan belajar peserta didik  hendaknya diakomodir dengan baik  sesuai dengan profil, minat, ataupun kesiapan belajar setiap peserta didik.  Untuk itu baik dalam proses pembelajaran ataupun dalam mengatasi masalah peserta didik Guru sebagai pemimpin pembelajaran, harus mampu  memberikan keputusan dengan menetapkan  keputusan yang tepat yang berpihak pada peserta didik.   Keputusan yang tepat akan  memberi nilai-nilai positif, sehingga menciptakan rasa nyaman pada peserta didik. Disamping itu juga akan mewujudkan peserta didik yang berkarakter mandiri, inovatif, kreatif dan mampu memrtanggungjawabkan keputusannya. Harapannya adalah  melahirkan pelajar Pancasila dimasa depan.

 

 

8. Kesimpulan Akhir Keterkaitan Modul Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin   Pembelajaran Dengan Modul-Modul Sebelumnya

 

Pengambilan keputusan masalah dilema etika yang dilakukan oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran harus berpihak pada kebutuhan peserta didik, dapat dilakuaknan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.      Keputusan harus Mencerminkan nilai-nilai dan peran guru dimana peran guru adalah sebagai penuntun yang akan menjadi   “panutan” dalam pembelajaran.

b.     Proses pengambilan keputusan dilakukan  dengan paradigma dan prinsip penyelesaian masalah yang teruji melalui 9 tahap pengujian Pemenuhan kebutuhan belajar siswa yang berdiferensiasi

c.     Keputusan harus Senantiasa dipertimbangkan secara matang  melalui pengelolaan sosial emosional yang baik agar siswa mampu berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.

d.       Pendekatan coaching dengan pertanyaan pertanyaan stimulus adalah proses yang mampu  menentukan keputusan tepat yang diambil guru dalam membantu siswa  menemukan jawaban serta mengambil keputusan terkait permasalahan yang dihadapi. 

e.    Kolaborasi aktif di komunitas sekolah,dengan rekan sejawat serta pimpinan sekolah sangat pembantu guru dalam proses elaborasi, refleksi serta evaluasi terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sehingga tercipta weel being dalam ekosistim demi terciptanya potensi siswa berkarakter dan berkembang di masa depan.

2 komentar:

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3.a.9 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

      oleh RISTA HARIATI, S.Pd CGP   ANGKATAN   2 KABUPATEN BENGKALIS RIAU FASILITATOR: BAPAK   Drs H. FIRDAUS, M.Pd PENDAMPAI...