oleh
RISTA HARIATI, S.Pd
CGP ANGKATAN
2 KABUPATEN BENGKALIS RIAU
FASILITATOR:
BAPAK Drs H. FIRDAUS, M.Pd
PENDAMPAING PRAKTIK IBU DESRINA,
SPd. AUD
1.
FACT (peristiwa)
A. Latar
Belakang
SMAS Cendana Mandau adalah sekolah swasta terkemuka di Kabupaten
Bengkalis Riau, Sebagian besar siswa
yang menimba ilmu di sekolah ini adalah Anak dari karyawan PT Pertamina Hulu
Rokan (PHR) serta anak-anak umum di lingkungan sekolah. Sebagaimana orang tua
lainnya, orang tua dari siswa yang bersekolah di Cendana memiliki keinginan yang tinggi agar
anak mereka bisa lolos masuk ke perguruan tinggi negeri vavorit di negeri ini,
inilah yang menjadi alasan bagi mereka mempercayakan pendidikan anak-anak
mereka kepada SMAS Cendana Mandau.
Banyak program yang disiapkan agar siswa yang kami didik bisa meraih
cita-cita sesuai dengan minat dan pilihan mereka sekaligus mewujudkan impian
dari orang tua. Selaras dengan visi sekolah yaitu “Mewujudkan Peserta Didik yang Berakhlak Mulia, Cerdas,
Berwawasan, Peka, Terampil Membudidayakan Lingkungan, Berkarakter Kebangsaan
dan Sukses Berkompetisi Secara Global.”
B.
Alasan Melakukan Aksi Nyata
Sebaik
apapun suatu program dipersiapkan tidak akan terlepas dari resiko yang bakal
dihadapi dalam pelaksanaanya, Pengambilan keputusan harus segera
dilakukan agar tidak terjadi masalah yang berlarut-larut yang akan berakibat berkurangnya kredibitas sekolah. Sehingga kami CGP tergerak untuk melakukan
aksi nyata pengimbasan materi PGP tentang
Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Selain itu kami juga melakukan aksi nyata, mengambil keputusan bersama pimpinan sekolah
dan rekan guru, dengan tahapan pengambilan
keputusan yang sudah disosialisasikan terhadap masalah dilema etika yang muncul
saat pelaksanaan “Program Bimbingan
Belajar dilaksanakan dari pukul 16.00 -
17.30 WIB, yang selama pandemi ini dilaksanakan secara
online dengan aplikasi LMS scholoogy dan
zoom/google meet. Pembinaan sudah berlangsung kurang lebih 3 bulan, masalahnya adalah
menurunya persentase kehadiran siswa yang mengikuti bimbingan belajar,
karena jadwal pelaksanaan bimbingan yang diadakan oleh sekolah bentrok dengan
jadwal bimbel siswa secara online berbayar. Ini adalah masalah dilema etika
yang dihadapi oleh sekolah, siswa dan orang tua.
Dilemanya pada jam yang bersamaan
siswa harus menentukan pilihan apakah akan mengikuti bimbingan belajar yang
diadakan oleh sekolah atau mengikuti bimbingan online berbayar yang sudah didaftarkan
oleh orang tua. Kedua pilihan siswa adalah benar akan tetapi saling
bertentangan.
Sekecil apapun masalah yang muncul jika permasalahan tersebut dibiarkan tanpa adanya sulusi
C. Hasil
Aksi Nyata yang dilakukan
1. Pengimbasan materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, kami lakukan dalam sebuah kegiatan yang bertajuk “Seminar Pengimbasam Materi Pendidikan Guru Penggerak” pada hari Selasa tanggal 5 Oktober 2021.

2.
Tahapan
pengambilan keputusan masalah
dilemma etika yang muncul pada saat
a. Prinsip
yang digunakan : Prinsip berbasis hasil akhir.
b. Paradigma
: jangka panjang vs jangka pendek
§ Jangka
panjang : kredibilitas sekolah tetap bisa dipertahankan
jika siswa mengikuti bimbingan belajar
yang dilakukan sekolah sesuai dengan program sekolah yang telah
disosialisasikan kepada orang tua. .
§ Jangka
pendek : jika bimbel online berbayar tetap diikuti,
menurut siswa mereka memiliki kesiapan untuk mengikuti UTBK karena tempat bimbingan
belajar online memilki koneksi dengan LTMPT.
c. Pengujian
Keputusan
§ Nilai
yang saling bertentangan : Bimbel sekolah vs bimbel online berbayar
§ Yang
terlibat : Murid, sekolah, Bimbel online berbayar
§ Fakta
yang relevan : jadwal bimbel online yang bersamaan dengan bimbel sekolah,
bimbel online memiliki koneksi dengan LTMPT,mempunyai program mengukur passing
grade Try Out, dengan program simulasi yang mirip pola yang mendekati UTBK,
sedangkan di sekolah guru sudah mempersiapkan bahan ajar dan soal persiapan
UTBK, secara konsep guru lebih menguasai materinya, dan sekolah sudah
menyiapkan program persiapan UTBK hingga siswa menyelesaikan pembelajaran
semester 2.
§ Uji
legalitas : tidak ada pelanggaran hukum.
§ Uji
regulasi : ada pelanggaran aturan ketika murid tidak mengikuti bimbel yang
dilakukan oleh sekolah.
§ Uji
intuisi : guru merasa tidak nyaman apabila siswa yang mengikuti bimbel di
sekolah persentase kehadirannya menurun.
§ Uji
publikasi : jika hal ini diketahui masyarakat umum maka akan berdampak pada
penurunan kredibilitas sekolah dan ini
berimbas pada nilai jual sekolah.
§ Uji
idola : prinsip pimpinan sekolah yang lama guru harus meningkatkan kompetensi
dan pelayanan terhadap murid sehubungan dengan mempersiapan murid untuk masuk
ke perguruan tinggi agar tetap mendapat kepercayaan dari orangtua murid sebagai
stakeholder, dan menutup akses bimbingan belajar online untuk bebas mempromosikan
bimbelnya ke sekolah.
d. Pengujian
paradigma : jangka pendek vs jangka panjang\
e. Prinsip
yang digunakan : Prinsip berbasis hasil akhir
f. Opsi Trilema : memberi masukkan kepada
pimpinan sekolah untuk mengubah jadwal bimbingan sekolah agar nantinya dapat
memfasilitasi murid untuk mengikuti bimbingan online yang sudah dijalani.
g. Keputusan
: siswa wajib mengikuti bimbingan belajar UTBK sesuai dengan program sekolah
dengan menyusun ulang jadwal agar murid juga tetap bisa mengikuti bimbel
belajar online yang telah dibayar orangtuanya.
h. Refleksi
: dengan mempertimbangkan semua tahapan dan langkah yang ada serta pengujian
dalam pengambilan keputusan maka opsi trilema menjadi pilihan yang terbaik agar
semua kebutuhan baik sekolah, murid dan orangtua dapat diakomodir.
2.
FEELINGS
( Perasaan)
Setelah melaksanakan aksi nyata
perasaan saya sangat senang karena beberapa hari setelah melakukan pengimbasan
materi Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran kami dihadapkan
dengan masalah dilema etika, kami langsung menerapkan tahapan pengambilan
keputusan yang menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan, 4. Paradigma dilema
etika dan 9 langkah pengujian keputusan. Sehingga kami mampu mengambil
keputusan yang tepat bagi kedua belah pihak
3.
FINDINGS
( Pembelajaran)
Pembelajaran
yang didapat agar program yang disusun tepat sasaran, sebagai berikut:
1.
Melakukan survei kebutuhan peserta didik sebelum menyusun
program
2. Melakukan diskusi bersama dengan komunitas sekolah
(pimpinan, guru, orangtua,
murid) membahas/menyusun program
3. Melakukan
pemetaan resiko yang akan muncul dari pelaksanaan suatu program
4. 4. FUTURE (Penerapan ke depan)
Setelah saya mempelajari dan memahami materi 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran, penerapan yang akan saya lakukan adalah akan berusaha berpihak pada murid dalam setiap pengambilan keputusan yang saya lakukan terlebih pada masalah dilema etika, saya akan menerapkan 4 paradigma dilemma etika, 3 prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian keputusan agar tidak gegabah dalam menetapkan keputusan
(Salam
Guru Penggerak, Bergerak, tergerak dan menggerakkan)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar